Kamis, 13 September 2012

Menganalisis Pengalaman menggunakan Teori Belajar Skinner

Pengalaman...
Pengalaman ini terjadi setahun yang lalu, saat saya masih berada di semester 2. Akibat dari pengalaman ini saya merasa kurang percaya diri jika di suruh persentasi di depan kelas. Hari itu pertama kalinya saya secara resmi persentasi di depan kelas, walaupun di semester pertama saya sudah pernah persentasi tetapi kali ini terasa berbeda karena pelajaran yang di presentasikan sudah lebih mendalam. Saat persentasi di mulai awalnya biasa saja teman sekelompok saya dengan lancar menjelaskan bagiannya, begitu pula teman saya yang selanjutnya. Tibalah giliran saya, waktu saya mulai menyebutkan nama, mic yang saya gunakan tiba-tiba tidak menyala dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyalakannya kembali, Saat itu hari sudah siang, panas, dan teman-teman menjadi sangat ribut karena sudah kelaparan. Setelah selesai persentasi saya dan kedua teman saya yang sudah presentasi di suruh memberikan contoh dari topik-topik yang sudah kami jelaskan. Ternyata contoh yang kami berikan salah, Dosen menyuruh kami berhenti presentasi, ketika itu masih ada dua teman sekelompok saya yang belum presentasi. Kami pun di suruh kembali ketempat duduk, nah yang paling membuat kami merasa sangat kecewa, dosen tidak ada memberikan kami aplause dan berkata kelompok inilah kelompok yang paling buruk presentasinya. Sejak saat itu saya menjadi kurang percaya diri dan malas jika di suruh presentasi di depan kelas, meskipun begitu yang harus dipelajari di jurusan ini yaitu memperbaiki diri sendiri dan harus percaya diri.  Jadi walaupun malas, saya tetap harus presentasi sampai sekarang.

Analisis dengan Teori Belajar Skinner

Skinner memiliki tiga klasifikasi umum penguat, yakni :
a. Primer atau sekunder
b. Umum/digeneralisasikan; dan
c. Positif atau negatif

Pengalaman yang saya alami tersebut dapat dimasukkan ke dalam penguatan positif atau negatif yaitu didasarkan pada cara stimuli memperkuat perilaku karena beberapa penguat adalah tambahan situasi dan penguat juga berfungsi memperkuat perilaku melalui penghentian atau penghilangan dari situasi. Dalam penguatan negatif stimuli diskriminatif adalah objek atau persitiwa yang penolakan dan tindakan di sebut sebagai tidak menyenangkan, istilah ini subjektif karena tidak memberikan informasi tentang efek dari stimulus penolakan dalam kaitannya dengan perilaku.

Tabel Penguatan Negatif
Stimulus Diskriminatif
Respon
Konsekuensi
Tipe Konsekuensi
Tipe Penguatan
Di suruh berhenti presentasi oleh Dosen karena memberikan contoh yang salah
Berhenti presentasi
Kami tidak presentasi lagi
Perilaku kami diikuti dengan penarikan stimulus diskriminatif
Negatif

 Penguatan negatif yaitu pengkondisian memperkuat perilaku menghindar, penggunaan penguatan negatif ini menimbulkan efek samping emosional yang mengiringi perilaku menghindar yaitu kurang percaya diri, malas. Dengan demikian kami berhenti presentasi karena di berhentikan oleh dosen dan hal ini mengakibatkan Saya menjadi kurang percaya diri dan malas jika ada tugas presentasi di depan kelas.

Selasa, 11 September 2012

Pengkondisian Berpenguat Skinner

  
 Kelompok 5

Lisa Chairani                  10-015
Juannita Sari Br. Tarigan 10-019
Christian Yosie               10-099
Cristin Siahaan               10-107

Penguatan Berpenguat Skinner
Bayi mengocok mainan, anak lari dengan satu roda, dan ilmuan mengoprasikan siklotron-semuanya diperkuat oleh hasil (Siknner, 1968b, h.153). Risetnya mengindikasikan bahwa keluaran yang dihasilkan oleh suatu respon adalah peristiwa penting yang mengubah perilaku (Skinner, 1953).
Prinsip-prinsip Belajar
Defenisi belajar : pertama Skinner (1950) belajar sebagai perubahan perilaku. Belajar bukan melakukan tapi balajar adalah mengubah apa yang kita lakukan(Skinner, 1989a, h.15).
Kunci memahami perilaku kompleks : memahami kejadian dan proses yang menyebabkan proses respon yang diberikan. Respon-respon ini tidak secara otomatis diasosiasikan dengan stimulus tertentu. Respon itu bisa muncul dibanyak situasi berbeda. Respon yang dimunculkan diberlakukan pada lingkunagn untuk menghasilkan jenis konsekuensi yang berbeda yang mempengaruhi hewan atau manusia, untuk mengubah perilaku dimasa depan. 3 komponen pentng yang diturunkan Skinner dari paradigma Thorndike adalah :
1.      stimulus diskriminatif
2.      respon
3.      stimulus penguat
Stimulus diskriminatif adalah stimulus yang secara konsisten hadir saat suatu respon memproduksi konsekuensi yang menguatkan. Stimuli diskriminatif sering kali berupa kejadian lingkungan dan pernyataan verbal dari orang lain.
Kategori penguat :
Ada 3 pengklasifikasian penguatan umum :
1.      penguat primer dan skunder
2.      penguat umum
3.      penguatan positif atau negatif
Pertama penguat primer dan skunder. Penguat primer : penguat dalam kondisi tepat, dapat meningkatkan frekuensi perilaku tanpa pelatihan. Penguat sekunder : mendapatkan kekuatan penguatan melalui asosiasi dengan kejadian yang telah berfungsi sebagai penguat.
Kedua penguat umum : penguat yang berfungsi dalam berbagai situasi, biasanya ada 2  penguat yang digeneralisasikan 1. Penguatan sosial, 2. Manipulasi penguatan fisik.
Ketiga penguatan positif atau negatif : konsekuensi penguatan berfungsi. Istilah lain untuk penguatan negatif : pengondisian penghindaran karena perilaku mempengaruhi penghindaran dari stimuli penolakan yang diperkuat. Akan tetapi dibanyak situasi, baik itu penguatan positif maupun penguatan negatif berfungsi memperkuat perilaku.
Sifat belajar yang Kompleks
Ada 4 faktor dalam penguasaan pola perilaku :
1.      pembentukan
2.      jadwal penguatan
3.      konsep penguatan negatif
4.      perilaku yang diatur peraturan
Pembentukan : terdiri dari serangkaian stimuli diskriminatif dan penggunaan untuk perubahan respon yang halus. Penguatan dan kegunaan negatif : keuntungan dari penguatan rasio-variabel adalah mempertahankan perilaku dari pelenyapan ketika penguatan jarang.  Tapi jika penguatan menimbulkan kerusakan dinamakan kegunaan negatif, contohnya : kecanduan berjudi.  Perubahan perilaku terjadi karena diperkuat pada masa lalu. Perilaku seperti itu disebut perilaku yang diatur peraturan, tapi berbeda dengan perilaku yang diatur kemungkinan. 
 
Prinsip Pembelajaran
Sistem pendidikan adalah sangat penting karena kesejahteraan setiap budaya tergantung pada pendidikan. Skinner berpendapat bahwa sekolah merupakan salah satu perubahan untuk melakukan penyesuaian kecil terhadap situasi yang ada. Skinner juga membagi beberapa aspek penting dari pembelajaran yaitu transfer kontrol stimulus dimana guru menunjukkan contoh perilaku dan siswa menirukannya. Dalam perencanaan pembelajaran untuk membentuk perilaku langkah pertama yaitu menspesifikasikan dengan jelas perilaku yang hendak dipelajari kemudian mengidentifikasi keterampilan awal dari pemelajar. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan serangkaian penguatan untuk perilaku agar makin baik. Skinner juga mengukapkan bahwa mesin pengajaran awal harus memberikan penguatan untuk konsekuensi langsung, Skinner menganggap komputer sebagai mesin pengajaran yang paling ideal tetapi skinner juga memperingatkan bahwa program komputer dapat merugikan siswa karena malah dapat mengalihkan perhatian siswa dari belajar. 
Aplikasi dalam pendidikan
Metodologi skinner menjadi sangat populer seprti halnya dengan behaviorimse watson pada tahun 1920 an. Tetapi, popularitasnya yang cepat menimbulkan banyak kesalahan aplikasi dari prinsip-prinsipnya. Banyak program manajemen behavioral yang muncul adalah kombinasi dari pengkondisian berpengaruh dengan metode lain.  Misalnya, banyak program menggunakan prosedur time out dan response cost.
Time out itu sendiri merupakan waktu mengasingkan individu untuk sementara waktu dari latar yang memberikan penguatan.
Response cost itu sendiri merupakan menghilangkan penguat karena perilaku yang salah dan mengharuskan pembayaran denda.  Kedua teknik ini merupakan penghilangan penguat, mereka adalah sebentuk hukuman dan hal ini nantinya menimbulkan efek samping yaitu emosi negatif.
Selain hal ini, banyak materi individual untuk perilaku verbal meniru format stimulus-respons-tanggapan daro pengajaran terprogram tetapi tidak meniru substansinya. Materi-materibuku ajar yang sering kita lihat yang berisi soal melengkapi kalimat todak akan membentuk perilaku verbal. Kekecewaan para pendidik teradap program yang dikembangkan dengan buruk dan kekakuan mesin pengajaran menyebabkan menurunnya gerakan pengajaran terprogram.
Salah satunya yaitu program token econommy yang dibuat untuk manajemen behavioral di kelas sering hanya fokus pada perilaku yang remeh, yang menimbulkan pendapat bahwa metodologi ini aplikasinya terbatas.
DISTAR, merupakan program komersial yang dikembangkan pada 1960 an yang berfungsi untuk mengajarkan membaca, masih sukses untuk anak-anak yang berisiko. Sekarang program itu lebih dikenal SRA reading mastery. Program ini sangat terstruktur dimana anak-anak diajari sesuai dengan level keterampilan mereka masing-masing.
                                            
Isu isu kelas
Pendekatan B.F.Skinner lebih mengacu kepada konsep-konsep yang bertanggung jawab atas perubahan perilaku. Oleh karena itu isu-isu yang penting yang dibahas merupakan isu isu yang mengenai perilaku atau sebagai stimuli yang menimbulkan perubahan perilaku.
Karakteristik pemelajar
Perilaku tertentu yang dibawa siswa ke situasi belajar dan perilaku itu sendiri mempengaruhi siswa itu sendiri untuk memperoleh perilaku baru.
-          Perbedaan individual
Menurut Skinner, perbedaan individual dalam perilaku siswa  berasal dari :
a.       Bakat genetik organisme
b.      Sejarah penguatan teretentu.
Contohnya :
Perilaku individu yang megalami retardasi mental adalah hasil dari warisan genetik. Namun beberapa program terencana dapat mengembangkan keterampilan baru.
Menurut Skinner, kontingensi penguatan yang defektif dalam pengalaman individu akan menyebabkan kegagalan bagi individu itu sendiri dalam memperleh berbagai keterampilan perilaku.
Contohnya :
Irama  à beberapa individu ( ahli ketik dan musisi ) berad dibawah pengaruh penguat yang menghasilkan pengaturan tempo yang halus. Namun perkembangan keterampilan ini dan keterampilan lainnya yang mempengaruhi pilihan karir, minat artistik, dan partisipasi dalam olahraga, biasanya yang tidak direncanakan. Namun, keterampilan yang oenting yang memberikan kontribusi pada perbedaan individual dapat diajarkan.
                Kesiapan belajar :
                Kesiapan adalah pembendaharaan perilaku yang dibawa siswa kedalam situasi belajar
Konsep kesiapan yang diinterpretasikan sebagai level usia atau kematangan tidak akan banyak membantu dalam menentukan ada atau tidaknya keterampilan yang penting. Studi perkembangan mungkin mengindikasikan sejauh mana perkembangan intelektual anak di dalam jadwal peristiwa.
Motivasi :
Perilaku yang megilustrasikan minat, antusiasme, apresiasi, atau dedikasi.
Seseorang yang dikatakan memiliki motivasi atau termotivasi adalah seseorang seperti siswa yang rajin dan bersemangat, inidvidu yang menikmati “membaca buku yang baik” dan ilmuwan yang berjam-jam di laboratorium. Aktivitas yang tetap dilakuakan tanpa danya pemberian penguatan yang nyata bukanlah hasil dari kontigensi alamiah. Kita tidak belajar membaca karena kita tidak menikmati buku yang menarik. Konsekuensi alamiah yang luas ini tidak cukup untuk mengembangkan dan mempertahankan perilaku yang berdidikasi . dedikasi itu sendiri merupakan hasil dari pengungkaoan atas penguatan variabel-rasio yang ditingkatkan secara bertahap.  Mula-mula individu menerima imbalan langsung atas keterlibatannya dalam suatu aktivitas kemudian penguatan ini secara perlahan diperjelas sampai aktivitas itu sendiri menjadi penguat sekunder.
Proses kognitif dan pengajaran .
Transfer belajar :
Eksperimen Thorndike dan Watson mengindikasikan bahwa tingkat kemiripan atas tugas yang telah diberikan sebelumnya dan sekarang ikut memberikan pengaruh pada kinerja siswa.
Contoh :
Belajar bermain piano, yang dikatakan meningkatkan performa dalam memainkan instrumen lain. Menurut Skinner sendiri, ketika latihan di satu area keterampilan meningkatkan performa di area lain, elemen yang sama diperkuat.
Belajar bagaimana cara belajar  :
Ketika anak merespons properti stimulus tertentu, responsnya berada di bawah kendali stimuli.  Perilaku tertentu yang biasanya diidentifikasikan dengan pemikiran harus dianalisis dan diajarkan . perilaku itu adalah perilaku manajemen dari intelektual yang oleh Skinner disebut perilaku sebelumnya.  Perilaku ini didefinisikan sebagai perilaku yang mempengaruhi perilaku akan merespons perubahan lingkungan atau mengubah pemelajar sehingga respons yang efektif menjadi dimungkinkan. Perilaku itu juga bersifat tertutup atau tersembunyi        (covert). Perilaku itu adalah kejadian privat yang tidak dapat dilihat. Termasuk di dalamnya adalah :
a.       Mereview fitur dari masalah tertentu atau menghitung jawaban matematika didalam hati.
b.      Visualisasi masalah atau situasi di mata pikiran ( penglihatan tersembunyi )
Respons “precurrent” lainnya adalah :
a.       Memerhatikan stimuli,
b.      Menggaris bawahi ide-ide penting dalam materi teks
c.       Menggunakan perangkat mnemonic atau petunjuk lain untuk mengingat ide-ide penting, dan
d.      Menata ulang elemen-elemen didalam suatu situasi masalah sehingga solusinya bisa lebih mungkin diperoleh.
Mengajarkan pemecahan masalah  :
Secara formal, pemecahan masalah didefenisikan sebagai “setiap perilaku yang, melalui manipulasi variabel-variabel, menyebabkan kemunculan solusi lebih dimungkinkan. “kesulitan” suatu masalah bergantung pada adanya respons dalam pengulangan subjek yang memecahkan masalah. Jika tidak ada respons yang segera tersedia, masalahnya menjadi sulit.  Untuk memaksimalkan kemungkinan respons ( solusi  ) , individu harus mengubah situasi sehingga dia dapat merespons dengan tepat. Langkah-langkah yang dapat diambil antara lain :
a.       Me-review masalah secara hati-hati dan mengklarifikasi kesulitan
b.      Menata ulang atau mengelompokkan ulang komponen-komponen masalah
c.       Mencari kemiripan antara masalah dengan masalah lain yang tekah dipecahkan.
Individu belajar memecahkan masalah secara efektif dengan memanipulasi stimuli  dan menerima penguatan untuk perilaku itu. Penguatan untuk manipulasi situasi masalah yang efektif akan mengurangi terjadinya kengawuran atau respons coba-coba terhadap masalah.
Implikasi untuk assessment
Fokus dari pengkondisian berpenguat adalah perubahan behavioral dan di kelas, penekanan ini sering berati adanya perilaku verbal. Seperti yang kita tahu, pada tahun awal-awal sekolah biasanya anak belajar membaca dan memcahkan soal aritmatika, belajar mengeja dan menyatakan makna dari kata baru, baik dalam bahas ibunya atau bahasa asing. Dengan kata lain anak mampu merespons situasi yang berbeda dengan respons verbal yang tepat. Selain itu, perilaku verbal pemelajar harus menjadi independen dari petunjuk dan dorongan yang menfasilitasi tahap awal akuisisi.
Ada tiga implikasi bagai asesmen kelas yaitu :
Pertama :
Respons yang dikonstruksi siswa adalah sesuatu yang penting untuk menentukan perubahan perilaku.  Pertanyaan pilihan ganda tidak teoat karena pengenalan jawaban yang benar tidak sama dengan mengkonstruksi respons. Alih-aluh memberikan pertanyaan kepada siswa tentang definisi dari kepadatan penduduk, yang diikuti dengan empat pilihan jawaban, pertanyaannya sebaiknya meminta siswa untuk mendefinisikan istilah itu dengan kalimatnya sendiri. Begitu juga dengan butir-butir yang memberikan pilihan bacaan satu sampai tiga paragraf yang diikuti dengan pertanyaan pilihan berganda adalah bukan asesmen yang mendukung penilaian terhadao pemahaman bacaan. Beberapa peserta kemungkinan akan langsung melihat jawaban tanpa membaca pilihan itu dan kemudian mencari jawaban di paragraf. Dan sebaliknya, soal esai atau menceritakan kembali, dimana pemelajar merekonstruksi dan mengurutkan elemen-elemen adalah hal yang lebih tepat untuk dilaksanakan.
Kedua :
Konsep pembentukan perilaku dari yang sederhana menuju yang kompleks mengimplikasikan setidaknya penilaian informal dengan umpan balik sebagai kemajuan belajar. Misalnya saat anak belajar membaca mereka harus punya banyak kesempatan untuk membacakan teks didepan guru atau mendapat pendampingan guru.
Ketiga :
Transfer kontrol stimulus adalah prasayarat untuk perubahan behavioral. Untuk menentukan perubahan perilaku asesmen harus merefleksikan persyaratan ini dan independen dari petunjuk belajar. Syarat ini adalah alasan dari mengapa pertanyaan pilihan berganda tidak tepat. Perilaku memecahkan masalah karenanya tidak boleh dinilai dalam situasi yang sama  dengan yang dipakai selama belajar.
Konteks sosial untuk belajar
Penguat yang membutuhkan mediasi dari orang lain disebut sebagai penguat sosial. Kelompok ini sendiri mencakup penguat positif dari perhatian, persetujuan dan afeksi. Dan stimuli aversif dari ketidaksetujuan, hinaan, ejekan, dan pelecehan.  Dalam latar sosial, relasi antar stimuli , respons, dan penguat adalah dinamis sekaligus resiprokal. Misalnya dua anak didalam satu ruang dengan sedikit mainan situsi ideal untuk membentuk perilaku yang mementingkan diri.
Perilaku di kelas juga merupakan produk dari kontingensi yang terus berlangsung dan kompleks, mencakup situasi dimana guru dan murid saling memperkuat baik secara positif maupun negatif. Jika seorang siswa tidak dihukum oleh kawannya karena menjawab pertanyaan guru dan diperkuat oleh guru, dia akan menjawab sesering mungkin. Jika guru hanya memanggil siswa yang tangannya diacungkan, siswa akan mengacungkan tangan. Demikian pula, guru yang diperkuat oleh jawaban yang benar akan memanggil siswa yang tanganya di acungkan. Namun sebaliknya, guru yang diperkuat oleh jawaban yang salah akan melakukan kontrol aversif dan mereka biasanya memanggil siswa yang tidak mengacungkan tangannya.
Karena itu, dalam merancang lingkungan kelas untuk memodifikasi perilaku harus mempertimbangakan pengetahuan timbal balik dari latar sosial.
Kaitan dengan perspektif lain
Perilaku pengkondisian lebih membahas perilaku ketimbang pengetahuan atau keadaan internal : bukti dari belajar adalah perubahan perilaku.  Tindakan siswa seperti memberi kontribusi secara verbal untuk wacana ilmiah, memanipulasi dan mengolah objek  atau mengamati penguatan yang diterima orang lain bukan indikator dari belajar kecuali itu semua merupakan perilaku baru.
Aplikasi pengkondisian berpenguat untuk prioritas perspektif teoretis lain terletak pada implementasi penguatan untuk mengembangkan perilaku yang kompleks. Contohnya adalah meoerkuat penjelasan anak tentang langkah-langkah pemecahan masalah mereka dan mendengarkan dengan perhatian pada strategi lain, mengembangkan kegigihan dalam menyelesaikan tugas akademik dan memantau sendiri proses belajar seseorang.
Analisis berpenguat terhadap diskusi instrinsik atau ekstrinsik.
Pada awal 1970 an ada dua eksperimen untuk mengeksplorasi efek dari pemberian imbalan pada anak-anak sekolah perawatan yang melakukan aktivitas sebelumnya mereka lakukan secara spontan pada waktu bebas.  Setiap anak dibawa ke ruang eksperimen secara sendiri-sendiri dan diminta menggambar beberapa lukisan untuk orang penting yang berkunjung ke sekolah.  Dalam kondisi eksperimental enam menit, beberapa anak juga diberitahu mereka akan mendapatkan sertifikat Good player. Dalam situasi yang lain, anak hanya menerima sertifikat atau diberi ucapan terima kasih. Periset mengatakan bahwa observasi pasca sesi eksperimen mengindikasikan bahwa persentase rata-rata waktu pilihan bebas yang dihabiskan untuk melukis oleh anak yang diberitahu tentang peghargaan secara signifikan  lebih sedikit ketimbang dua kelompok anak lainnya.  Namun, karena tidak ada data dasar untuk waktu bebas yang dihabiskan si anak, tidak bisa dibuat inferensi atau kesimpulan tenatng penurunan atau penambahan. Periset secara kerilu menyimpulkan bahwa penawaran dan pemberian sertifikat akan melemahkan minat anak dalam aktivitas itu dan sekolah seharusnya menghindari imbalan ekstrinsik itu.
Pertama :
Menurut pengkondisian berpenguat, tawaran sertifikat dan penerimaan kondisi itu oleh isi anak untuk ativitas menggambar itu merupakan kontrak pra eksperimen antar periset dengan anak.
Kedua :
Dengan tidak adanya data basis mengenai waktu bebas yang dipakai untuk mewarnai, tidak bisa diambil kesimpulann tentang apakah waktu menggambar pasca eksperimen bertambah atau berkurang .
Ketiga :
Contoh ini merupakan salah satu implementasi dari keluaran tertentu, sedangkan oerubahan perilaku biasanya melibatkan lebih dari satu sekuensi stimulus diskriminasi respons keluaran.
Keempat :
Perilaku gigih yang dilakukan tanpa adanya penguat yang nyata adalah berada di bawah kontrol stimuli diskrimintaif interna dan atau penguat natural.
Terakhir :
Guru tidak meimplementasikan penguat konkret untuk ativitas dimana siswa sudah menunjukkan minatnya.
Mengembangkan strategi kelas.
Guru dapat menggunakan prinsip-prinsip Skinner dengan tiga cara :
a.       Menggunakan stimuli diskrimintaif dan penguatan dalam interaksi dalam kelas secara tepat.
b.      Implementasikan langkah-langkahh pembentukan didalam pengajaran
c.       Susun materi pengajaran yang diindividualisasikan .
Mengembangkan iklim kelas yang positif.
Pendekatan yang jelas seperti ketegasan tindakan, mungkin diperlukan dalam kelas yang sangat ribut. Namun, dalam hal ini guru dapat membuat transisi dari hukuman ke penguatan positif denagn satu perubahan sederhana – dengan merespons kesuksesan siswa ketimbang kegagalan siswa. Daripada menunjukkan apa kesalahan siswa  lebih baik  tunjukkan lah apa yang telah mereka lakukan dengan benar. Dan hasilnya nantinya akan berupa situasi kelas yang membaik dan pembelajaran yang lebih efisien.
Pengaplikasian teknologi yang dikembangkan oleh Skinner di kelas dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
o   Langkah 1. Analisis lingkungan kelas sekarang
·         Apa perilaku siswa yang positif yang baru baru ini menerima penguatan di kelas? Apa perilaku negatifnya menerima penguatan?
·         Perilaku mana yang baru-baru ini dikenakan hukuman di kelas ?
·         Bagaimana frekuensi hukumannya?
o   Langkah 2. Buat daftar penguat positif potensial.
·         Apa aktivitas yang disukai siswa?
·         Manakah diantara perilaku yang kena hukuman seperti yang diidentifikasi dalam langkah sebelumnya yang dapat dipakai sebagai penguat?
·         Aktivitas mana yang anda lihat dalam latar alamiah yang mungkin berfungsi sebagai penguat positif untuk perilaku lain?
o   Langkah 3. Memilih sekuensi perilaku yang akan diimplementasikan awal di kelas.
·         Mana diantara perilaku yang dihukum yang diidentifikasi di langkah pertama yang jarang direkstrukturisasi dalam bentuk perilaku positif?
·         Mana diantara perilaku positif yang akan diidentifikasi di langkah pertama yang jarang terjadi?
·         Apa stimuli diskriminatif awal yang akan digunakan?
o   Langkah 4. Implementasikan sekuensi perilaku, menjaga catatan anekdotal dan membuat perubahan jika diperlukan.
·         Apakah aturan untuk perilaku kelas cukup jelas dan konsisten?
·         Apakah metode untuk mendapatkan penguatan cukup jelas dan apakah penguatan telah diberikan untuk perilaku yang sudah membaik.
·         Apakah setiap anak memiliki kesempatan untuk mendapatkan penguatan atas perubahan perilaku?
·         Setelah oerubahan perilaku awal, apakah penguatan diberikan setelah interval yang lama dan penguat lain juga diimplementasikan?

Pemrograman pengajaran
Langkah-langkah berikut ini direkomendasikan dalam mengembangkan program respon yang terstruktur :
o   Langkah 1. Identifikasi keterampilan akhir yang akan dikuasi dan menganalisis pokok pelajaran yang akan dipelajari.
·         Apa sifat dari perilaku akhir?
·         Apa istilah atau defenisi yang harus dipelajari untuk mendapatkan keterampilan itu?
·         Apa tipe contoh yang harus direspons siswa selama belajar ?
o   Langkah 2. Mengembangkan sekuensi frame awal dan konfirmasi respons.
·         Informasi apa yang harus ditempatkan dalam frame pertam untuk memicu respons?
·         Apa urutan respins logi yang dapat diharapkan dari siswa?
·         Apa sekuensi stimuli diskriminatif yang bergerak maju dari yang sedrhana ke yang kompleks yang dapat memebrikan transfer kontrol stimuli?
o   Langkah 3. Review sekuensi frame, tata ulang juga perlu
·         Apakah urutannya bergerak maju dari sedrhana ke kompleks?
·         Apakah dukungan secara bertahap dihilangkan dalam urutan itu ?
·         Apakah siswa memberi respons pada konten yang bermakna atau yang trivial
o   Langkah 4 . implementasikan pengajaran pada beberpa siswa dan revisi jika perlu.
·         Apakah ada siswa yang mengalami kesulitan dengan frame?
·         Apakah siswa melewati sistem frame, peroleh jawaban yang benar hanya dengan membaca bagian dari frame?
·         Apakh programnya menyebabkan penguasaan performa pada kriteria pascates?

Rabu, 18 Mei 2011

Kendala Guru dalam Mengajar Drama di SMA N 1 Lubuk Pakam

Anggota Kelompok :
Juannita Sari Br. Tarigan   (10-019)
Dhita Sundary Dalimunthe (10-009)
Stephen Cuaca                 (10-077)

Topik : Dinamika Mengajar Pada Guru Profesional
Judul : Kendala Guru Dalam Mengajar Drama di SMA N 1 Lubuk Pakam



1.   Perencanaan
      1.1   Pendahuluan
Tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam mewujudkan tujuan pendidikan ini bukan hanya tugas para praktisi pendidikan yang pada umumnya seperti guru dan dosen, akan tetapi khususnya juga tugas dari ahli tentang perilaku dan proses mental seperti para ahasiswa dan dosen psikologi pendidikan. Hal ini menjadi penting bagi penggiat psikologi pendidikan karena salah satu kajian dan analisis psikologi pendidikan terkait akan perilaku dan proses mental para pengajar.
Hal ini dapat dilihat relevansinya dengan fenomena aktual yang ada, seperti para guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam mengajarkan drama kepada murid-muridnya di SMA N 1 Lubuk Pakam mengalami beberapa kendala. Akibatnya teori-teori yang menyangkut drama tidak tersampaikan dengan baik.
Menurut dugaan kami ini terjadi karena para guru kurang fleksibel dan kurag inovatif dalam menerapkan strategi mengajar. Hal ini senada dengan pendapat J. W. Santrock yang menyatakan bahwa dalam mengajar yang efektif guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi yang harus diaplikasikan secara fleksibel.[i]
Berdasarkan hal di atas, maka kami merasa tertarik mengangkat suatu penelitian dengan topik “Dinamika Mengajar Pada Guru Profesional” dengan menetapkan judul “Kendala Guru Dalam Mengajar Drama di SMA N 1 Lubuk Pakam”.
1.2    Landasan Teori
Dalam penelitian ilmiah, landasan teori sangat dibutuhkan dalam penulisan, sebab landasan teori dapat dijadikan landasan berfikir secara logis terhadap perumusan masalah yang diajukan.
Dalam membahas hal ini, maka kami akan memaparkan mengenai mengajar sebagai berikut :
Mengajar menurut  Nasution dalam Muhibbin adalah suatu aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.[ii]
Sementara Sudjana mengatakan bahwa mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, menggorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.[iii]
Dari uraian diatas terlihat jelas bahwa tugas dan peranan guru sebagai pendidik profesional sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlangsungnya interaksi edukatif didalam kelas yang lazim diseut proses belajar-mengajar.
Guru juga bertugas sebagai administrator, evaluator, konselor dan lain-lain sesuai dengan pendapat B. Suryosubroto mengenai sepuluh kompetensi yang harus dimiliki guru.
Adapun sepuluh kompetensi guru yang dimaksud, meliputi :[i]
1.   Menguasai bahan, meliputi :
a. menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah
      b. menguasai bahan pengayaan/penunjang bidang studi
2.   Mengelola program belajar mengajar, meliputi :
a. merumuskan tujuan instruksional
b. mengenal dan dapat menggunakan prosedur instruksional
    yang tepat
c. melaksanakan program belajar mengajar
d. mengenal kemampuan anak didik
3.   Mengelola kelas, meliputi :
a. mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran
b. menciptakan iklim belajar mengaja yang serasi
4.   Penggunaan media atau sumber, meliputi :
a. mengenal, memilih dan menggunakan media
b. membuat alat bantu pelajaran yang sederhana
c. menggunakan perpustakaan dalam proses belajar
    mengajar
d. menggunakan micro teacing untuk unit program
    pengenalan lapangan
5.   Menguasai landasan-landasan pendidikan
6.   Mengelola interasi-interaksi beajar mengajar
7.   Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran
8.   Mengenal fungsi layanan dan bimbingan serta penyuluhan di sekolah,  meliputi :
a. mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan
    penyuluhan
b. menyelenggarakan layanan dan bimbingan serta
    penyuluhan
9.   Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna
      keperluan pengajaran.
Kompetensi profesional diatas merupakan profil kemampuan dasar yang harus dimiliki guru. Hal diatas senada dengan J. W. Santrock, hanya saja Ia mengklasifikasikan kompetensi yang harus dimiliki guru menjadi 2, yaitu :
1. Harus menguasai beragam perspektif dan strategi
2. Harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel.
Berdasarkan uraian diatas maka guru dalam mengajar harus bisa mengatur dan mengkordinasi para peserta didik melakukan proses belajar dimana agar guru dapat melakukannya Ia harus memiliki kempetensi seperti tersebut diatas.
Menyadari hal tersebut diatas, kami merasa perlu merumuskan penelitian ini dengan menuangkannya kedalam bentuk pertanyaan, seperti :
Kompetensi apa saja yang menjadi kendala dala mengajarkan drama oleh guru SMA N 1 Lubuk Pakam beserta cara mengatasi kendala tersebut.
1.3    Alat atau Bahan
Alat atau bahan yang kami gunakan dalam penelitian, yaitu :
a. Kuisioner atau lembar angket
Kuisioner atau lembar angket digunakan sebagai bahan utama dalam pelaksanaan survey.
b. Alat tulis
Alat tulis seperti pulpen digunakan untuk menjawab kuisioner atau lembar
                    angket yang dibagikan ke objek penelitian
c. Kamera
Kamera digunakan untuk dokumentasi yang bertujuan menjadi alat bukti
                   dalam pelaksanaan proyek ini.
1.4    Analisis data
Untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru SMA N 1 Lubuk Pakam maka data-data yang diperoleh diorganisasikan terlebih dahulu dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Dari lembar angket peneliti menganalisis kendala yang
    dihadapi guru dalam mengajarkan drama
               b. Menarik kesimpulan
1.5    Objek atau Subjek
Yang menjadi objek penelitian adalah kendala dalam mengajar drama sedangkan yang dijadikan subjek penelitian adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA N 1 Lubuk Pakam yang berjumlah 5 orang.
1.6    Jadwal Pelaksanaan
No.
Kegiatan
Bulan
April
Mei
Mg 1
Mg 2
Mg 3
Mg 4
Mg 1
Mg 2
Mg 3
1.
Perencanaan Topik dan Judul
Senin, 4 April at. 12. 00 Wib






2.
Pendahuluan Pembuatan dan Landasan Teori

Rabu, 13 April 2011 at. 11. 30





3.
Pembuatan Kuisioner atau Lembar Angket

Kamis, 14 April 2011 at. 14. 00 Wib





4.
Pembuatan Surat Izin Fakultas untuk Melakukan Survey ke sekolah



Kamis, 28 April 2011 at. 10. 00 Wib



5
Menyerahkan Surat Izin Fakultas Kepada Pihak Sekolah




 Senin,2 Mei 2011 at. 12. 15 Wib


6.
Pelaksanaan Kegiatan
Tiba di SMA N 1 Lubuk Pakam





Kamis, 12 Mei at. 09. 00 Wib

7.
Melapor ke kantor Tata Usaha





at. 09. 15 Wib

8.
Menuju Ruang data dan Kelas yaitu Tempat dimana Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Telah menunggu kedatangan kami





at. 10. 00 Wib

9.
Perkenalan dan maksud kunjungan sambil mengambil Dokumentasi





at. 10. 10 Wib

10.
Pembagian Kuisioner atau Lembar Angket dan Dokumentasi





at. 10. 15 Wib

11.
Pengumpumpulan Kuisioner atau Lembar Angket dan Dokumentasi





at. 10. 35 Wib

12.
Penutupan, Ucapan terima kasih dan Pemberian Reward





at. 10. 45 Wib

13.
Permohonan Izin Pulang ke Kantor Tata Usaha





at. 11. 00 Wib

14.
Pulang dari SMA N 1 Lubuk Pakam





at. 11. 15 Wib

15.
Evaluasi Data dan Pengambilan Kesimpulan Survey





Jumat 13 Mei 2011 at. 10. 00 Wib

16.
Penyelesaian Poster






Senin, 16 Mei 2011 at. 10. 00 Wib

    1.7    Kalkulasi Biaya
Perkiraan jumlah biaya yang kami rincikan sebagai berikut :
- Kuisioner atau lembar angket yang berjumlah 7 lembar :
Rp.   35.000,-
- Pulpen yang disediakan untuk guru dalam
   mengisi Kuisioner atau lembar angket :                           Rp.  15. 000,-
- Reward berupa :
   7 buah gelas:                                                                 Rp. 120. 000,-
   1 buah plakat penghargaan :                                          Rp.   60. 000,-
- Bahan bakar selama melakukan penelitian :                    Rp.   50.000,-+
Total biaya                             Rp. 280. 000,-
2.   Pelaksanaan
2.1    Uraian Detail dan Sistematis Pelaksanaan Kegiatan
Tugas mini proyek ini kami awali dengan melakukan pemilihan topik dan judul pada minggu pertama di bulan April yaitu Senin, 4 April 2011 setelah kami memperoleh topik dan judul, kami lanjutkan dengan membuat pendahuluan dan landasan teori. Kami terlibat perdebatan yang amat serius untuk menentukan alat apa yang akan digunakan untuk membuat tugas mini proyek ini dan pada akhirnya pada tanggal 14 April 2011 kami sampai pada sebuah keputusan bahwa alat yang akan digunakan adalah kuisioner atau lembar angket. Selanjutnya surat izin survey dari fakultas yang kami ajukan pembuatannya pada tanggal 28 April 2011 selesai pembuatannya pada tanggal 2 Mei 2011 dan di serahkan kesekolah tempat kelompok kami melakukan survey pada hari itu pula. Tak menunggu waktu terlalu lama, kami di telepon oleh pihak sekolah bahwa pada hari kamis tanggal 12 Mei 2011 kami dapat melakkan survey di SMA N 1 Lubuk Pakam.
Hari yang dinanti pun tiba, tepatnya kamis tanggal 12 Mei 2011 pukul 09.00 wib kami sampai di SMA N 1 Lubuk Pakam dan selanjutnya menghadap ke ruang tata usaha untuk melapor. Bersama dengan Ibu Jamiatun kami menuju ruang data. Diruang inilah sebagian guru Bahasa dan Sastra Indonesia telah menanti kami dan ada sebagian lagi yang berada di kelas karena sedang melakukan proses belajar-mengarkan .
Sesampainya di ruang data SMA N 1 Lubuk Pakam kami langsung meperkenalkan diri serta memberitahu maksud dan tujuan kami kepada para guru. Setelah proses tersebut tepat pada pukul 10.15 wib kami membagikan kuisioner atau lembar angket kepada para guru. 20 menit kemudian para guru selesai mengisi kuisioner atau lembar angket yang kami sediakan dan kami mengumpulkan kembali kuisioner atau lembar angket tersebut setelah sebelumnya dalam proses pengisian kuisioner atau lembar angket kami melakukan dokumentasi. Setelah selesai kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada para guru serta memberi reward kepada para guru dan kepada Kepala Sekolah. Sebelum kami kembali dari SMA N 1 Lubuk Pakam kami melapor kembali ke kantor tata usaha untuk meminta izin pulang. Keesokan harinya, data yang terkumpul kami analisis dan ternyata kami memperoleh hasil yang memuaskan dari penelitian tersebut sehingga dapat disusun kesimpulan penilitian dari tugas mini proyek ini.
3.   Pelaporan dan Evaluasi
      3.1    Uraian Hasil Dari Data
Berdasarkan kuisioner atau lebar angket yang telah dijawab oleh responden maka akan kami uraikan data yang kami peroleh dari responden sebagai berikut :
1. Sebelum mengajar membuat persiapan tertulis dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia sebelum mengajar membuat persiapan tertulis dan hanya 1 orang guru saja yang kadang-kadang sebelum mengajar membuat persiapan tertulis.
2.  Menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia kadang-kadang menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar dan hanya 1 orang guru saja yang selalu menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar.
3.  Memanfaatkan lingkungan sekitar dalam mengajar dari hasil pengolahan data yang kami peroleh bahwa 3 orang guru Bahasa dan Sastra Indonesia selalu memanfaatkan lingkungan sekitar dalam mengajar dan 2 orang guru lagi hanya kadang-kadang memanfaatkan lingkungan sekitar dalam mengajar.
4.  Dalam mengajarkan drama melakukan pelacakan pendahuluan dari hasil pengolahan data yang kami peroleh bahwa semua guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang menjadi responden dalam mengajarkan drama tidak melakukan pelacakan pendahuluan.
5.   Mengajarkan drama melakukan penentuan sikap praktis dari hasil
      pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia tidak mengajarkan drama melakukan penentuan sikap praktis dan hanya 1 orang guru yang mengajarkan drama melakukan penentuan sikap praktis.
6.  Dalam mengajarkan drama membuat kegiatan diskusi dari hasil pengolahan data yang kami peroleh bahwa 3 orang guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam mengajarkan drama tidak membuat kegiatan diskusi dan hanya 2 orang guru dalam mengajarkan drama membuat kegiatan diskusi.
7.   Mengajarkan drama melakukan kegiatan praktek dari hasil pengolahan data yang kami peroleh bahwa semua guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama melakukan kegiatan praktek.
8.  Mengajarkan drama dengan melakukan kegiatan latihan pengucapan dialog
   dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak melakukan kegiatan latihan pengucapan dialog dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama dengan melakukan kegiatan latihan pengucapan dialog.
9.  Mengajarkan drama memberikan gambaran berakting dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberikan gambaran berakting dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan gambaran berakting.
10. Mengajarkan drama memberi latihan tubuh dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberi latihan tubuh dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan latihan tubuh.
11. Mengajarkan drama memberi latihan suara dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberi latihan suara dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan latihan suara.
12. Mengajarkan drama memberi latihan observasi dan imajinasi dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberi latihan observasi dan imajinasi dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan latihan observasi dan imajinasi.
13. Mengajarkan drama memberi latihan konsentrasi dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberi latihan konsentrasi dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan latihan konsentrasi.
14. Mengajarkan drama memberi latihan teknik dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberi latihan teknik dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan latihan teknik.
15. Mengajarkan drama memberi latihan sistem akting dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberi latihan sistem akting dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan latihan sistem akting.
16. Mengajarkan drama memberi latihan untuk memperlentur keterampilan
   dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia mengajarkan drama tidak memberi latihan untuk memperlentur keterampilan  dan hanya 1 orang guru saja yang mengajarkan drama memberikan latihan untuk memperlentur keterampilan.
17. Mengakhiri kegiatan mengajarkan drama dengan melakukan pementasan
     dari hasil pengolahan data yang kami peroleh bahwa semua guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang menjadi responden mengakhiri kegiatan mengajarkan drama dengan melakukan pementasan.
Dari hasil pengolahan data diatas maka kami memperoleh kesimpulan bahwa :
1. Berdasarkan pendapat J. W. Santrock dan B. Suryosubroto mengenai kompetensi guru dalam mengajar jika dibandingkan dari hasil penelitian kami maka penyebab kendala guru dalam mengajar drama di SMA N 1 Lubuk Pakam adalah kurangnya kompetensi guru dalam mengajarkan drama sehingga materi-materi mengenai drama yang disampaikan tidak begitu dimengerti oleh para siswa. Hal itu terlihat dari uraian data yang kami peroleh, misalnya :
      a.  Dalam mengajarkan drama melakukan pelacakan pendahuluan dari hasil pengolahan data   
           yang kami peroleh bahwa semua guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang menjadi responden
           dalam mengajarkan drama tidak melakukan pelacakan pendahuluan.
b. Mengajarkan drama melakukan penentuan sikap praktis dari hasil pengolahan data yang kami peroleh mayoritas guru Bahasa dan Sastra Indonesia tidak mengajarkan drama melakukan penentuan sikap praktis dan hanya 1 orang guru yang mengajarkan drama melakukan penentuan sikap praktis.
2. Dari hasil uraian diatas kami juga memperoleh cara mengatasi kendala tersebut, yaitu :
a.  Guru harus lebih aktif membaca literatur-literatur bahasa khususnya yang berkenaan dengan pengajaran sastra, mengikuti acara-acara pergelaran-pergelaran seni baik yang di tayangkan di televisi maupun melalui sangar-sanggar kesenian. Dengan aktifnya mengikuti beberapa kegiatan yang bernilai positif tersebut, maka sedikit demi sedikit pengetahuan guru tersebut tentang drama akan bertambah, dan seanjutnya diharapkan tidak akan ditemukan lagi kendala guru dalam pengajaran drama.
b.   Kepala sekolah harus lebih aktif dalam memberikan motivasi kepada guru untuk
      mengadakan pementasan drama, minimal sekali dalam tiap semesternya.
3.2    Laporan Dalam Bentuk Poster
 
3.3        Evaluasi
Dari awal kami mengerjakan tugas mii proyek ini semua sangat terancang dengan baik. Dari mulai menentukan topik dan judul sampai kepada penelitian yang kami lakukan di SMA N 1 Lubuk Pakam.
Meskipun pada saat melaksanakan penelitian teman kampi Stephen tidak dapat ikut serta dengan alasan yang tidak jelas. Saya dan Dhita tetap bersemangat untuk melakukan penelitian tersebut.
Alat atau bahan yang kami gunakan pun tidak terbilang banyak walaupun biaya yang kami keluarkan lebih dari perkiraan yang semula kami anggarkan Rp. 100.000 ternyata tidak cukup. Kami menyediakan alat atau bahan melebihi jumlah yang dibutuhkan karena ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap alat atau bahan yang kami gunakan.
Kami sangat berterima kasih kepada Kepala Sekolah (pihak sekolah) yang telah mengizinkan kami untuk melakukan penelitian di SMA N 1 Lubuk Pakam, Ibu Jamiatun yang telah bersedia mendampingi kami untuk melakukan survey kepada guru di ruang data maupun di kelas serta mendokumentasikannya. Guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah bersedia menjadi subjek penelitian kami sehingga penelitian kami ini berjalan dengan lancar.
Pada saat pembuatan laporan dan evaluasi kami pun tidak mengalami kendala yang berararti, karena semua telah tersusun rapi sesuai dengan perencanaan begitupula dengan penarikan kesimpulan.
3.3        Testimoni
Testimoni ini kami bagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a.   Testimoni Kelompok, yaitu :
Menurut kelompok kami untuk tugas mini proyek yang diberikan oleh dosen pengampu Ibu Dina  pada mata kuliah Psikologi Pendidikan sangatlah menarik, karena ini pertama kalinya kami melakukan penelitian (survey) yang terjun langsung ke lapangan. Hal ini dapat menjadi bekal buat kami untuk tugas penelitian yang lebih berat di semester berikutnya.
b.   Testimoni Anggota Kelompok, yaitu :
1.   Testimoni Juannita Sari Br. Tarigan (10-019)
Menurut saya tugas mini proyek ini sangatlah bermanfaat untuk membantu saya lebih dalam memahami fenomena-fenomena yang terjadi di dunia pendidikan serta membantu saya untuk lebih memahami pula mata kuliah psikologi pendidikan ini.
Selain itu, dalam pengerjaan tugas mini proyek ini kami di berikan keadaan yang sangat kritis yaitu harus mampu bersosialisasi dengan para guru yang sangat profesional di bidangnya. Pada saat proses pengerjaan laporan kami di tuntut pula untuk dapat bekerja sama antara sesama anggota kelompok, sehingga kami menjadi sangat kompak.
2.   Testimoni Dhita Sundary Dalimunthe (10-009)
Tugas Mini proyek ini sangatlah mengasyikkan. Saya langsung bersentuhan dengan dunia nyata pendidikan yang ternyata memiliki segudang fenomena. Dengan adanya tugas mini proyek ini Saya di buat untuk lebih kompak dengan sesama anggota karena dalam pengerjaannya sangat di butuhkan rasa saling mebutuhkan diantara kami. Dan yang paling penting tugas ini telah memberi saya pelajaran yang sangat berharga.
3.   Testimoni Stephen Cuaca (10-077)
Wah, akhirnya selesai juga tugas mini proyek yang sangat mengalami banyak tantangan ini. Dari mulai awal perencanaan sampai tahap akhir mengambil kesimpulan. Tugas ini membuat saya menjadi bertambah wawasan dan pengalaman. Terima kasih banyak buat teman-teman kelompok saya dan Dosen Pengampu Ibu Dina.
Dokumentasi 
Foto Bersama dengan Guru Bahasa dan Sastra Indonesia







Foto Bersama dengan Siswa/i



Kuisioner atau Lembar Angket


Surat Izin dari Fakultas


Surat Balasan dari Sekolah


Daftar Pustaka
J. W. Santrock. 2010. Psikologi Pendidikan (Terjemahan Tri Wibowo B. S). Kencana Media Group. Jakarta.
Muhibbin Syah. 1997. Psikologi Pendidikan dan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Nana Sudjana. 1991. Perencanaan Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta



B. Suryosubroto. 1996. Proses Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta












[i] Suryosubroto, B. Proses Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta. 1996. h 4-5.





[i] Santrock, J. W. Psikologi Pendidikan (Terjemahan Tri Wibowo B. S). Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2010. h. 7.
[ii]  Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. Bandung. 1997. h. 182.
[iii]  Sudjana, Nana. Perencanaan Pengajaran. Rineka Cipta. Jakarta. 1991. h. 29.